Dr. Rangga Gautama, S.H., M.H : Akibat Keteledoran Pengendara Motor Hingga Terjatuh Setelah Tertabrak Mobil, Siapakah yang Salah!!

JAKARTA| Keteledoran pengendara dapat menyebabkan kecelakaan di jalan raya, kunci keselamatan berlalu lintas harus dipraktekkan dengan tertib berkendara.

Berdasarkan Pasal 1 Angka 24 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”): “Kecelakaan Lalu Lintas adalah suatu peristiwa di Jalan yang tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan Kendaraan dengan atau tanpa Pengguna Jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.”

Dari definisi kecelakaan lalu lintas di atas dapat diketahui bahwa kecelakaan lalu lintas itu dapat saja terjadi secara tidak diduga dan tidak disengaja yang melibatkan kendaraan atau pengguna jalan lain.

Kemudian Pasal 229 ayat (2) UU LLAJ berbunyi: “Kecelakaan Lalu Lintas ringan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan Kendaraan dan/atau barang.”

Perihal pertanggungjawaban terhadap kecelakaan lalu lintas ini diatur dalam Pasal 234 ayat (1) UU LLAJ yang berbunyi: “Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor, dan/ atau Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh Penumpang dan/ atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga karena kelalaian Pengemudi.”

Sedangkan kewajiban diatur dalam Pasal 236 UU LLAJ yang berbunyi:

(1) Pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 wajib mengganti kerugian yang besarannya ditentukan berdasarkan putusan pengadilan.

(2) Kewajiban mengganti kerugian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada kecelakaan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 229 ayat (2) dapat dilakukan diluar pengadilan jika terjadi kesepakatan damai di antara para pihak yang terlibat.

Jadi kesimpulannya, jika terjadi kecelakaan mobil yang disebabkan keteledoran dari pengendara motor maka kerugian yang diderita oleh si pengendara motor tersebut adalah akibat ulahnya sendiri. Dengan demikian, pengendara mobil tidak wajib menanggung biaya ganti kerugian pengendara sepeda motor.

Namun demikian, ketika perkara kecelakaan lalu lintas ini nantinya sampai pada tahap persidangan, majelis hakim lah yang berwenang memutuskan apakah Anda memenuhi unsur-unsur pidana baik dalam UU LLAJ atau tidak. Selain itu, hakim pula-lah yang memutus berapa besarnya ganti rugi yang wajib dibayar oleh pihak yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Memang par paradigma di Indonesia, siapapun yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas tetap kendaraan yang lebih besar yang disalahkan. Padahal, hal tersebut sudah tidak berlaku lagi setelah di terbitkannya UU No.22 Tahun 2009 tentang LLAJ.

Bahwa dalam ketentuan Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang LLAJ Pasal 1 angka 24 sudah dijelaskan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.

Jadi berdasarkan ketentuan dalam UU No.22 Tahun 2009 tersebut, saat ini siapa pun yang salah, baik motor, pesepeda, pejalan kaki, atau mobil kalau salah yang tetap salah. Tidak ada lagi pengecualian atau istilah yang besar yang salah. Tidak ada lagi istilah saya pengguna sepeda, saya pejalan kaki, saya pemotor, saya pengguna kendaran kecil, itu semua harus diluruskan. Selama mereka melanggar, tidak taat peraturan pengendara tersebut yang salah. Contoh, motor karena lampu rem mati ditabrak dari belakang oleh mobil, yang salah itu motornya bukan mobilnya karena mentang-mentang lebih besar, begitu juga sebaliknya.

Tidak hanya itu, kalau ada kecelakaan karena jalan yang rusak, yang disalahkan itu bisa Dinas Pekerjaan Umum (PU).

penulis : Dr. Rangga, Gautama, S.H.,M.H Advocate | Direktur Utama Bengkel Hukum Republik Indonesia

Seluruh informasi di bengkel hukum republik indonesia disiapkan semata – mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum.

Related posts