Kajati Riau Akmal Abbas Hadiri Pengajuan II Perkara Dilakukan Penghentian Berdasarkan Restoratif Justice, Disetujui JAM-Pidum Kejagung RI 

PEKANBARU| Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau melaksanakan Video Conference Ekspose Pengajuan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif, sekitar pukul 10.45WIB sampai dengan selesai. Senin (4/12/2023).

Melalui siaran pers Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Riau Bambang HeriPurwanto, SH, MH, mengatakan kepada awak media.

Dalam Ekspose Pengajuan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif yang dihadiri oleh Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Riau Akmal Abbas, SH, MH, Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Riau Hendrizal Husin, SH, MH, Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Riau Martinus, SH dan Koordinator bidang Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Riau Sunandar Pramono, SH, MH

Ekspos yang diangkat ini terdiri dari 2 perkara tindak pidana ringan yakni An.Tersangka Ahmad Muzakir dalam perkara laka juga berupa pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas terhadap Saksi Korban Harfan yang terjadi pada tanggal 01 Oktober 2023 sekira pukul 13.00 wib di Jl.Kelapa Sawit Pekanbaru , dimana atas perbuatannya Tersangka disangkakan telah melakukan tindak pidana laka juga sebagimana yang dimaksud dalam pasal 310 ayat(3) UU No.22 Tahun 2009 tentang LLAJ dan secara yuridis telah dinyatakan lengkap oleh JPU tanggal 17 November 2023 dan diserahkan Penyidik ​​ke JPU pada tanggal 27 November 2023.

Setelah proses penyerahan tersebut kemudian JPU bertindak sebagai Jaksa Fasilitator dalam memulihkan pada keadaan semula berupa pemaafan, perdamaian dan ganti kerugian termasuk biaya pengobatan dan kerusakan kendaraan (motor) terhadap korban sehingga atas upaya Jaksa Fasilitator kemudian menyetujui perdamaian para pihak di tanggal 19 November 2023 yang disaksikan tokoh masyarakat di Kantor Kejari Pekanbaru,”kata Bambang HeriPurwanto.

Kemudian dalam perkara kedua yang berasal dari Kejari Bengkalis An.Tersangka Azmal Saragih dimana Tersangka secara emosinal dan sengaja melakukan pengancaman terhadap Saksi Korban Muslim berupa penggesekan parang ke tangan kiri Tersangka dengan tujuan untuk menakuti Saksi Korban yang telah membuat Laporan Polisi terhadap Tersangka, hal sebagaimana. dalam pasal 335 ayat (1) KUHP. Dan setelah diupayakan mediasi oleh Jaksa Fasilitator, akhirnya para pihak menyepakati adanya perdamaian tanpa syarat, adanya pemaafan Saksi Korban Muslim terhadap Tersangka Azmal Saragih dan mendapat respin positif dari masyarakat.

Bahwa pengajuan 2 (dua) perkara untuk dilakukan pencurianan berdasarkan keadilan Restoratif Justice disetujui oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung RI dengan pertimbangan telah memenuhi Pasal 5 Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor : 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran Jampidum Nomor : 01/E /EJP/02/2022 Tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai kebebasan jaminan hukum.

“Alasan pemberian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ini diberikan yaitu :

1. Telah dilaksanakan proses perdamaian dimana tersangka telah meminta maaf kepada korban dan korban sudah memberikan maaf kepada tersangka;

2. Tersangka belum pernah dihukum;

3. Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana;

4. Ancaman pidana denda atau pidana penjara tidak lebih dari 5 tahun;

5. Tersangka berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya;

6. Proses perdamaian dilakukan secara sukarela (tanpa syarat) dimana kedua belah pihak sudah saling memaafkan dan tersangka berjanji tidak kembali perbuatannya dan korban tidak ingin perkaranya dilanjutkan ke perdamaian;

7. Masyarakat merespon positif berteriakan berdasarkan keadilan restoratif,”jelas Penkum Kejati Riau,”terang Bambang HeriPurwanto.

Selanjutnya Kepala Kejaksaan Negeri Pekanbaru dan Kepala Kejaksaan Negeri Bengkalis menerbitkan surat ketetapan diagnostik pemanggilan (SKP2) berdasarkan keadilan restoratif justice sebagai jaminan jaminan hukum berdasarkan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif,”tutur Kajati Pekanbaru. (Anthony)

Related posts